oleh

Polisi, Soal Penahanan Tersangka Pelaku Kekerasan Terhadap Anak 

PALAS, (HK) – Polres Palas melalui Polsek Sosa yang menangani kasus tindak kekerasan terhadap anak sejauh ini sudah diproses. Berkasanya sudah dikirim ke kejasaan negeri palas.

“Sudah kita kirim berkasnya ke kejaksaan, tinggal menunggu apakah lengkap atau masih perlu dilengkapi lagi,” tukas Kapolsek Sosa AKP GM Siagian melalui Kanit Res Iptu Taufik Siregar yang dihubungi, Kamis (29/4).

Menindaklanjuti permintaan P2TP2A untuk melakukan penahanan terhadap tersangka, polisi punya pertimbangan. Salah satunya tersangka dinilai kooperarif dalan persoalan.

“Itu alasan kami, tapi yang jelas itu sudah kita serahkan ke kejasaan,” tutur Taufik.

Sebelumnya, Mardan Hanafi Hasibuan SH MH, Ketua harian perlindungan perempuan dan perlindungan anak (P2TP2A) kabupaten Padang Lawas (Palas) meminta polisi menahan tersangka pelaku kekerasan terhadap anak usia empat tahun. Hal ini terkait kekerasan terhadap anak usia empat tahun sesuai LP/72/IX/2020/SU/PALAS/Sek Sosa tertanggal 17 September 2020.

Dimana sampai saat ini tersangka pelaku belum dilakukan penahanan. Menurut Mardan, anak merupakan aset bangsa yang perlu dijaga dan dilindungi. Karena itu ia meminta pelaku kekerasan dan penganiayaan terhadap anak segera di tahan demi menjaga trauma.

“Karena tersangka pelaku SN dikhawatirkan akan mengulangi perbuatannya terhadap korban, ataupun menimbulkan trauma ketika melihat tersangka,” kata Mardan.

Sementara menurut kuasa hukum korban, Irwan Rohman, SH, MH, sesuai pasal 13 UU nomor 23 tahun 2002 disebutkan, setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan berhak mendapat perlindungan. Termasuk perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya.

“Pasal 13 ayat 1 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, Jo pasal 76 c ayat 2, dimana penganiayaan terhadap anak dengan luka berat dengan ancaman hukuman lima tahun dan atau denda Rp 100 juta,” sebutnya.

Sementara Soleh Pohan SH, kuasa hukum tersangka mengaku pihaknya menjamin penangguhan penahanan terhadap kliennya. Meski sudah tersangka, haknya sebagai warga negara masih dijamin.

“Klien kami kooperatif, tidak mungkin mnghilangkan barang bukti, tidak mungkin melarikan diri. Dan haknya itu harus kita hormati, jangan asal minta main tahan tahan aja,” jelas Soleh Pohan kepada Media. (tan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed