oleh

Hj.Sri Rahayu Agustina.SH Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di PKBM Assolahiyah

KARAWANG || HK JABAR –

Anggota DPRD Komisi 5 Provinsi Jawa Barat Hj.Sri Rahayu Agustina,SH mensosialisasikan 4 (empat) Pilar Kebangsaan, bertempat di PKBM Assolahiyah Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Senin (30/11/2020).

Acara yang dihadiri pengelola PKBM Assolahiyah, Kepala Desa Pasirjaya, juga Sekretaris Desa Pasirukem ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tujuan sosialisasi tersebut yakni lebih membumikan empat pilar sebagai jati diri bangsa.

“Sesuai UU No. 17 Tahun 2014, setiap anggota MPR memiliki tugas menyosialisasikan dan memasyarakatkan Empat Pilar MPR RI. Pilar artinya tiang yang menopang sebuah bangunan. Bangsa kita akan utuh dan kuat bila pilarnya kuat. Sebagaimana sebuah bangunan, akan kukuh bila tiangnya kukuh, Demikian juga sebaliknya,” ucap Herusaleh selaku panitia pelaksana usai acara.

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara adalah kumpulan nilai-nilai luhur yang harus dipahami seluruh masyarakat. Menjadi panduan dalam kehidupan ketatanegaraan untuk mewujudkan bangsa dan negara yang adil, makmur, sejahtera, serta bermartabat.

Melalui pengamalan nilai-nilai Empat Pilar, diharapkan dapat mengukuhkan jiwa kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme generasi penerus bangsa. Agar semakin mencintai dan berkehendak untuk membangun negeri. Empat Pilar ini menjadi panduan yang efektif dan nyata. Apabila semua pihak, segenap elemen bangsa, para penyelenggara negara, dan masyarakat konsisten mengamalkannya dalam arti seluas-luasnya.

Pendek kata, Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri atas Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika adalah jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Empat Pilar Kebangsaan harus terus dibumikan. Khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus estafet kepemimpinan di masa depan.

“Bicara jati diri bangsa, bukan hal ringan. Artinya, membangun karakter atau jati diri, tidak cukup membaca buku, ikut seminar, dan pelatihan saja. Namun dibutuhkan mekanisme pembiasaan berulang-ulang secara terarah dan konsisten,” kata Heru. (Irwan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed