oleh

Gubernur NTB Terbitkan Surat Keputusan Peraturan Shalat Idul Fitri & Penutupan Pusat Keramaian

MATARAM, (HK) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menerbitkan keputusan terbaru yang mengatur tentang penetapan pelaksanaan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah pandemi wabah Covid-19. Keputusan itu diterbitkan pada Selasa, (19 Mei 2020).

Dalam keputusan Gubernur nomer 003.2-504 tahun 2020 itu, memutuskan bahwa Pelaksanaan hari raya Idul Fitri di NTB dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

IKLAN (X)

A). Pengumpulan zakat fitrah dan/atau ZIS (Zakat, Infak, dan Shadaqah) diusahakan menghindari kontak fisik secara langsung, dan bisa dilakukan melalui layanan jemput zakat dan transfer layanan perbankan.

B). Penyaluran zakat fitrah dan/atau ZiS (Zakat, Infak, dan Shadaqah) yang ada di masjid, mushola, dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat dapat diberikan secara langsung kepada mustahik dengan tetap mengikuti protokol kesehatan;

C). Dalam situasi pandemi Covid-19, takbir dilaksanakan melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya;

D). Takbir dapat dilakukan dilaksanakan di masjid hanya oleh pengurus takmir masjid;

E). Shalat Idul Fitri 1441 H dilaksanakan di rumah masing-masing;

F). Silaturahim atau halal bihalal Idul Fitri 1441 H bisa dilakukan melalui media sosial dan video call/conference;

G). Perayaan lebaran tepat dengan keramaian yang lazim dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri 1441 H ditiadakan;

H). Sesuai dengan protokol kesehatan, seluruh mall, pusat perbelanjaan dan toko-toko pakaian untuk sementara ditutup sejak tanggal 20 Mei 2020 sampai waktu yang ditentukan kemudian;

I). Dalam menjalankan ibadah ramadhan dan syawal, seyogyanya masing-masing pihak turut mendorong, menciptakan, dan menjaga kondusivitas kehidupan keberagaman dengan tetap mengedepankan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariah;

J). Kepada seluruh aparat keamanan terkait (TNI, Polri), Pol PP, Camat, Lurah/kepala desa, kepala lingkungan dan ketua RT dengan selalu melibatkan peran serta aktif dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainnya di masing-masing lingkungan untuk meningkatkan pengawasan dan penertiban agar keputusan Gubernur ini dapat dilaksanakan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Barat;

K). Senantiasa memperhatikan instruksi pemerintah daerah terkait pencegahan dan penanganan Covid-19.

Dalam diktum berikutnya dinyatakan pula bahwa dengan berlakunya keputusan Gubernur ini, maka keputusan Bersama Gubernur NTB, Ketua DPRD Provinsi NTB, Kepala Kepolisian Daerah NTB, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah NTB, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB, Komandan Korem 162/Wira Bhakti, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTB, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi NTB, Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Provinsi NTB ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Provinsi NTB, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi NTB, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi NTB tentang Pelaksanaan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah Pandemi Wabah COVID NOMOR 220/189 BKBPDN/2020, NOMOR kep/288/V/2020. NOMOR: B/1658 KW.19.1 2/KV.00/ 3/2020, NOMOR : B 652/V/2020 tanggal 13 Mei 2020, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Lebih lanjut Zuelkiflimansyah als Bang Zuel sapa’an akrabnya menjelaskan, pada saat rapat koordinasi pembahasan pelaksanaan Shalat Idul Fitri bersama Wagub dan jajaran Forkopimda di ruang utama kantor Gubernur NTB pada Selasa, (19/5/2020) mengatakan bahwa pihaknya menghimbau masyarakat NTB untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah saja, begitu juga terhadap toko pakaian dan pusat keramaian, Mall secepatnya ditutup jangan sampai ada kesan sebagian masyarakat bahwa imbauan tersebut hanya berlaku untuk tempat melaksanakan ibadah saja akan tetapi semua tempat yang memungkinkan adanya kerumunan seharusnya tidak boleh dibuka,” Tegas Bang Zuel.

“Kita semua ingin Salat Jumat dan Shalat Idul Fitri, tetapi sekarang kita berbicara tentang keselamatan masyarakat. Apalagi, belakangan ini yang sembuh dari Covid-19 di daerah kita mulai meningkat, jangan sampai karena euforia kita ingin lebaran, membuat kita kembali ke titik semula,” ujarnya.

Zulkiflimasyah menegaskan, bahwa dirinya memahami kerinduan masyarakat untuk melaksanakan ibadah dan merayakan lebaran secara normal seperti biasanya, akan tetapi dengan pertimbangan penyebaran virus pandemi Covid-19 menjadi kendala dan membatasi banyak aktivitas dan bukan hanya kita di NTB saja, tetapi hal serupa juga dialami oleh saudara kita di luar daerah dengan harapan semoga apa yang telah menjadi keputusannya (Gubernur) bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten/kota di NTB.

Lebih lanjut Zuelkiflimasyah mengharapkan sinegitas kepada semua pihak yang terkait untuk lebih serius terhadap imbauan shalat Idul Fitri di rumah dengan tidak membiarkan pusat perbelanjaan / keramaian di biarkan buka agar di masyarakat tidak menimbulkan pertanyaan kenapa mall dibuka sedangkan masjid tidak boleh dibuka.

Kedua tempat ini harus kita tegaskan bersama agar tidak lagi menjadi polemik dan kesimpang siuran pada masyarakat NTB khusunya,” tutup Gubernur. ( Ibn )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed