oleh

Abdul Latif : Seharusnya Pemegang Izin Dilindungi

Photo : Abdul Latif Lubis

Madina, (HK). Meresfon adanya rombongan kaum ibu-ibu pemecah batu tradisional di Kecamatan Panyabungan mendatangi Bupati Madina beberapa hari lalu di Taman Raja Batu dan mengeluhkan bahwa sejak adanya pengusaha yang memiliki izin galian C, batu pecah mereka tak laku lagi.

“Kepada pemerintah daerah, tolong lindungi pengusaha yang punya izin. Jangan karena politik kenyamanan kami terganggu”, kata Abdul Latif Lubis salah seorang Pemilik izin galian C kepada wartawan saat konferensi pers , Selasa (15/9/2020) di Panyabungan.

Lanjut Latif, yang dikeluhkan kaum ibu-ibu itu tak benar justru kami masih membutuhkan banyak batu pecah. Bahkan kami sangat siap membeli batu pecah dari ibu-ibu itu jika memang mereka ada memproduksi batu pecah.

“Kita sudah investigasi langsung ke lapangan dan menjumpai ibu-ibu yang mendatangi bupati tersebut. Faktanya kami dapatkan bahwa ibu-ibu yang datang ke Raja Batu tak memahami apa-apa, dan diduga dikondisikan seseorang yang bertujuan kepentingan pribadi,” ungkap Latif.

Oleh karena itu, Latif menduga ada upaya sistematis di balik kehadiran kaum ibu yang bertemu bupati di Taman Raja Batu itu. Dan, berharap agar dunia usaha jangan dihubungkan dalam konstelasi politik. “Apalagi saat ini Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sudah memasuki tahapan Pilkada serentak tahun 2020”, harapnya.

Latif menyatakan bahwa perusahaan yang di kelolanya memiliki izin resmi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, berupa izin produksi Galian C dan bahkan menyumbang PAD sekitar 600 juta rupiah per tahun.

Dalam hal ini, Dia justru menantang pemerintah daerah untuk mengusut perusahaan-perusahaan yang sudah bertahun-tahun beroperasi di Madina akantetapi tak memiliki izin produksi galian C atau izin lainnya, sebab jika tak punya izin produksi berarti kategori penggelapan PAD dan pajak.”, tutupnya. (Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed